Menkes Tekankan Pencegahan, Bukan Hentikan Sekolah Saat Kabut Asap

Menkes Tekankan Pencegahan, Bukan Hentikan Sekolah Saat Kabut Asap
Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan pencegahan kesehatan, bukan kebijakan libur sekolah, dalam penanganan dampak kabut asap.

BERITASELA.ID — Video pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo yang meminta sekolah tetap masuk dengan alasan kelangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu kekhawatiran orang tua. Pasalnya, kabut asap kebakaran hutan meningkatkan risiko gangguan pernapasan akut (ISPA) pada anak.

Menkes Budi Gunadi Sadikin merespons dengan membagi dua hal: urusan izin sekolah dan urusan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kebijakan masuk atau libur sekolah bukan ranah Kementerian Kesehatan, melainkan kewenangan pihak terkait. "Kalau sekolah nggak sekolah itu bukan wewenang saya," ujarnya.

Langkah Kemenkes Tangani Dampak Kabut Asap

Meski tidak memutuskan soal aktivitas sekolah, Kemenkes telah mengirimkan bantuan ke wilayah terdampak karhutla. Bantuan tersebut berupa lebih dari 5 juta masker dan sejumlah oksigen konsentrator. Masker ditujukan untuk menyaring partikel halus PM2.5 yang menjadi bahaya utama polusi udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan. "Yang penting harus pakai masker supaya partikel-partikel PM2.5-nya yang bahaya bisa tersedot, itu bisa tersaring," kata Budi. Sementara itu, oksigen konsentrator diperuntukkan bagi masyarakat yang sudah mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap. Alat ini membantu menyediakan oksigen bagi pasien yang kesulitan bernapas. "Kalau yang sudah terkontaminasi atau terkena, ya itu kita bantu dengan bantuan oksigen. Oksigennya kita juga sudah kirim oksigen konsentrator ke sana," jelasnya. Menkes juga menekankan bahwa risiko paparan polusi tidak berbeda antara anak yang berada di rumah atau di sekolah. Selama kebakaran hutan masih berlangsung, partikel berbahaya tetap tersebar di udara terbuka. "Walau bagaimana nggak mungkin populasinya kita pindahkan. Dia sekolah maupun tinggal di rumah sama saja, terkena eksposur terhadap udara," ujarnya.

Apa yang Perlu Orang Tua Lakukan?

Dengan kondisi ini, penggunaan masker menjadi langkah pencegahan utama bagi anak-anak yang tetap beraktivitas di luar ruangan. Menkes menegaskan anak-anak wajib memakai masker untuk mengurangi risiko menghirup partikel PM2.5. "Jadi anaknya juga harus pakai masker. Itu pencegahan yang lebih baik," pungkasnya. Orang tua yang anaknya menunjukkan gejala gangguan pernapasan seperti batuk berdahak, sesak napas, atau demam setelah beraktivitas di luar rumah disarankan segera memeriksakan kondisi anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan dini dapat mencegah kondisi memburuk akibat paparan asap yang berkepanjangan. Keputusan akhir soal libur sekolah saat karhutla tetap menunggu kebijakan pemerintah daerah setempat. Namun dari sisi kesehatan, perlindungan diri melalui masker menjadi kunci utama yang bisa dilakukan masyarakat di tengah situasi ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index